Setiap orang memiliki perjalanan yang membentuk siapa dirinya hari ini. Bagi saya, Mawaddah, seorang guru kimia di SMA Maarif Lawang, perjalanan itu dimulai jauh sebelum saya mengenakan seragam guru dan berdiri di depan kelas. Perjalanan ini adalah tentang proses menjadi, tentang bergerak, tergerak, dan pada akhirnya menggerakkan.
Awal Mula: Ketika Kepemimpinan Ditempa di Bangku SMA
Tahun 2014/2015 menjadi titik penting bagi saya, ketika diberi amanah sebagai Ketua OSIS di SMA. Pada masa itulah saya belajar tentang keberanian mengambil keputusan, bergaul dengan berbagai karakter, mengatur kegiatan sekolah, hingga mempraktikkan komunikasi yang efektif. Saya tidak sadar saat itu bahwa pengalaman OSIS inilah yang kelak menjadi fondasi kepemimpinan saya sebagai seorang pendidik.
Menjadi Ketua OSIS bukan hanya soal memimpin organisasi, tetapi juga tentang belajar menyusun visi, memecahkan masalah, dan memastikan suara siswa terwakili. Semua pengalaman itu, diam-diam, menyiapkan saya untuk masa depan.
Memilih Jalan Ilmu: Menjadi Mahasiswa Kimia Murni
Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan ke Jenjang yang lebih tinggi yaitu ke perguruan tinggi —bukan jurusan pendidikan, bukan pula jalur yang secara langsung menuntun saya menjadi guru. Namun, di situlah saya belajar bahwa jalan hidup sering kali berbelok dari ekspektasi awal.
Kimia mengajarkan saya ketelitian, logika ilmiah, berpikir runtut, dan kesabaran dalam proses. Saya tidak menyangka bahwa disiplin ilmu ini nantinya akan menjadi “bahasa” yang menghubungkan saya dengan murid-murid SMA yang penuh rasa ingin tahu.
Menemukan Panggilan: Menjadi Guru
Setelah menyelesaikan studi, saya mengambil keputusan besar: mengajar. Dunia pendidikan ternyata menyambut saya dengan tantangan yang berbeda dari laboratorium kampus. Mengajar bukan hanya tentang menguasai ilmu, tetapi tentang bagaimana menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima setiap murid yang unik.
Pada titik inilah saya menyadari bahwa menjadi guru membutuhkan kompetensi yang terus diasah. Saya ingin bukan hanya “mengajar”, tetapi mendidik.
Langkah Penguatan Kompetensi: PPG 2022
Tahun 2022 saya memutuskan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Program inilah yang memberikan saya bekal pedagogik, manajemen kelas, evaluasi pembelajaran, serta pemahaman tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.
PPG membuat saya melihat dunia pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Saya belajar bahwa guru bukan hanya penyampai materi, melainkan fasilitator perjalanan belajar murid.
Dari Bergerak ke Menggerakkan: Menjadi Guru Penggerak Angkatan 2024
Perjalanan tidak berhenti di situ. Saya merasa perlu melangkah lebih jauh untuk menjadi guru yang membawa perubahan. Tahun 2024, saya mengikuti Program Guru Penggerak—sebuah perjalanan transformasi diri yang mendalam.
Guru Penggerak mengajarkan saya bahwa menjadi guru bukan hanya tentang kemampuan mengajar, tetapi tentang kepemimpinan pembelajaran. Bahwa guru harus mampu menjadi agen perubahan, yang tidak hanya bergerak sendiri, tetapi juga menggerakkan guru lain untuk bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid.
Dalam program ini, saya belajar bagaimana menumbuhkan budaya positif, merancang pembelajaran berdiferensiasi, berkolaborasi dengan rekan-rekan sejawat, dan menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan murid yang beragam.
Menutup Cerita, Membuka Perjalanan Baru
Kini, sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum di SMA Maarif Lawang, saya menyadari bahwa setiap langkah yang pernah saya ambil—dari menjadi Ketua OSIS, mahasiswa kimia murni, guru pemula, peserta PPG, hingga Guru Penggerak—semuanya terhubung dalam satu benang merah: keinginan untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi murid.
Perjalanan ini belum selesai. Akademik mungkin berubah, kurikulum bisa direvisi, teknologi pembelajaran terus berkembang—tetapi satu hal yang tidak berubah adalah komitmen untuk selalu menghadirkan pembelajaran yang memanusiakan, memerdekakan, dan menumbuhkan setiap murid.
Inilah sketsa kehidupan saya sebagai guru. Bukan sempurna, tetapi penuh proses dan pembelajaran. Dan saya percaya, setiap guru memiliki cerita yang layak dibagikan—karena dari cerita itulah inspirasi sering kali lahir.

Tinggalkan Komentar