Lawang, 26 Agustus 2026 — Rabiul Awal bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini menjadi momentum untuk kembali menghadirkan sosok paling mulia dalam kehidupan: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi keagamaan yang berkembang luas di dunia Islam. Kata maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Karena itu, Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW sekaligus menghidupkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, Maulid Nabi diperingati pada 12 Rabiul Awal. Pada tahun 2026, tanggal tersebut bertepatan dengan 25 Agustus 2026 dalam kalender Masehi.
Namun, tahukah kita dari mana tradisi Maulid Nabi bermula?
Peringatan Maulid Nabi tidak dilaksanakan pada masa Rasulullah SAW maupun para sahabat. Catatan sejarah mengenai munculnya tradisi ini memiliki beberapa versi.
Salah satu catatan sejarah menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi mulai dikenal secara resmi pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, sekitar abad ke-10 Masehi. Dalam salah satu riwayat, Khalifah Al-Mu’izz li Dinillah disebut menyelenggarakan peringatan Maulid pada sekitar 362–363 Hijriah.
Dalam perkembangannya, tradisi tersebut kemudian semakin dikenal luas di dunia Islam. Salah satu tonggak penting terjadi di Irbil, Irak, pada masa Sultan Muzhaffaruddin Abu Sa’id Kokburi pada awal abad ke-7 Hijriah. Ia dikenal menyelenggarakan peringatan Maulid secara sangat meriah dengan melibatkan para ulama, ahli tasawuf, masyarakat luas, jamuan makanan, serta pemberian sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dari sinilah tradisi Maulid berkembang semakin luas ke berbagai wilayah dunia Islam. Bentuk perayaannya pun beragam. Ada yang mengisinya dengan pembacaan sirah Nabi, shalawat, pengajian, doa bersama, sedekah, hingga berbagai tradisi budaya lokal.
Perjalanan tradisi Maulid kemudian sampai ke kawasan Nusantara seiring berkembangnya Islam di kepulauan Indonesia.
Dalam konteks Indonesia, tradisi Maulid berkembang melalui dakwah para ulama dan penyebar Islam, termasuk melalui pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat. Salah satu catatan menyebutkan bahwa tradisi Maulid berkembang dalam dakwah Wali Songo, kemudian berakulturasi dengan budaya lokal.
Jejak tersebut masih dapat kita lihat hingga sekarang. Di Yogyakarta dan Surakarta misalnya, dikenal tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud. Di daerah lain terdapat tradisi khas seperti Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan, Walima di Gorontalo, Ampyang Maulid di Kudus, serta berbagai tradisi Maulid lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan Maulid Nabi bukan hanya tentang sebuah perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang dakwah Islam yang beradaptasi dengan masyarakat dan budaya setempat.
Semangat itulah yang kemudian dihadirkan oleh SMA Maarif Lawang dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bertempat di Krida SMAMALA, Rabu, 26 Agustus 2026, keluarga besar SMA Maarif Lawang mengikuti rangkaian kegiatan Maulid Nabi dalam suasana penuh khidmat, kebersamaan, dan nuansa religius.
Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembiasaan diri sebelum seluruh peserta mengikuti rangkaian acara. Setelah itu, kegiatan dibuka oleh MC, Sheila dan Fatchiyya, yang mengantarkan peserta menuju acara inti peringatan Maulid Nabi.
Suasana semakin syahdu ketika Tim BDI Al-Qalam melantunkan Sholawat Maulid Diba’. Lantunan shalawat yang menggema di Krida SMAMALA menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengenang sejarah kelahirannya, tetapi juga dengan memperbanyak shalawat dan berusaha mengikuti akhlak beliau.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala SMA Maarif Lawang, sebelum memasuki sesi tausiah yang disampaikan oleh Bapak K.H. Farid Makruf.
Melalui tausiah tersebut, para peserta diajak untuk kembali mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW, memahami kemuliaan akhlaknya, serta menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi muda. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan zaman, pendidikan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Nilai kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, kepedulian, rendah hati, dan menghormati sesama perlu terus ditanamkan dalam kehidupan nyata.
Dan salah satu sumber keteladanan terbaik bagi umat Islam adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi di SMA Maarif Lawang menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan sekolah.
Di balik lantunan shalawat, tausiah, dan kebersamaan yang terbangun, terdapat pesan pendidikan yang jauh lebih besar: membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam iman dan karakter.
Inilah semangat pendidikan yang terus dibangun SMA Maarif Lawang.
Sekolah bukan hanya tempat siswa mendapatkan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk kepribadian, menumbuhkan kepedulian, memperkuat spiritualitas, dan mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi masa depan dengan karakter yang kuat.
Setelah rangkaian acara selesai, kegiatan ditutup oleh MC dan dilanjutkan dengan pembagian snack kepada peserta sebagai bagian dari kebersamaan dalam memperingati hari penuh makna tersebut.

Tinggalkan Komentar