Info Sekolah
Kamis, 22 Okt 2026
  • Selamat Datang Website Resmi SMA Maarif Lawang - Sekolah Double Track - SIAP KERJA SIAP KULIAH
  • Selamat Datang Website Resmi SMA Maarif Lawang - Sekolah Double Track - SIAP KERJA SIAP KULIAH
30 September 2026

Roadshow Teater Barata SMA Maarif Lawang : Dari Kedai Kopi Hingga Gedung Sekolah

Rab, 30 September 2026 Dibaca 44x Berita / Kegiatan

Roadshow

LAWANG — Sejarah tidak selalu harus disampaikan melalui buku tebal, ruang kelas yang sunyi, atau pidato yang serius. Di tangan generasi muda yang kreatif, sejarah juga dapat hadir melalui panggung teater, dialog yang mengundang tawa, dan cerita sederhana yang menyimpan pesan mendalam.

Semangat itulah yang dibawa Teater Barata SMA Maarif Lawang melalui rangkaian roadshow pertunjukan bertema Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) pada 26, 28, dan 30 September 2026. Dalam tiga kesempatan tersebut, para siswa menghadirkan seni pertunjukan sebagai media untuk mengajak masyarakat dan pelajar mengenal sejarah sekaligus merenungkan arti persatuan, kemanusiaan, dan pentingnya berpikir kritis.

Perjalanan dimulai pada 26 September 2026 melalui penampilan di Kedai Kopi Senggani. Ruang yang akrab dengan perjumpaan dan obrolan masyarakat itu menjadi salah satu tempat Teater Barata memperkenalkan karya mereka di luar lingkungan sekolah. Panggung tidak lagi terbatas pada gedung pertunjukan, tetapi hadir di tengah ruang sosial tempat gagasan dan pengalaman saling bertemu.

Roadshow berlanjut pada 28 September 2026 di Cafe Sangkara. Melalui penampilan tersebut, Teater Barata membawa semangat berkesenian ke ruang yang lebih luas, sekaligus memberikan pengalaman kepada para siswa untuk berinteraksi dengan penonton dari latar belakang yang beragam.

Bagi para anggota teater, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat pentas. Setiap penampilan menjadi kesempatan untuk mengasah kepercayaan diri, membangun kekompakan, mengolah karakter, dan menyampaikan pesan melalui bahasa seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Naskah yang Belum Jadi”: Ketika Sejarah Dibicarakan dengan Cara Berbeda

Salah satu daya tarik pertunjukan ini terletak pada konsep naskah yang mengangkat tema sejarah melalui cerita ringan, dialog jenaka, dan dinamika khas kehidupan anak SMA.

Naskah berjudul “Naskah yang Belum Jadi” menghadirkan empat karakter, yakni Arya, Rendi, Tio, dan Dani. Mereka digambarkan sebagai anggota kelompok teater sekolah yang tengah kebingungan menentukan naskah untuk pementasan peringatan G30S/PKI.

Alih-alih langsung menghadirkan adegan sejarah yang berat, cerita justru dimulai dari persoalan sederhana: naskah yang belum selesai, perdebatan antarteman, aktor yang terlalu dramatis, hingga properti panggung berupa panci yang memancing gelak tawa.

Rendi tampil dengan penjiwaan berlebihan, seolah-olah sedang berada di tengah tragedi besar. Sementara itu, Tio menanggapi dengan celetukan santai, Dani sibuk memikirkan kebutuhan artistik, dan Arya berusaha menjaga agar pementasan mereka tetap memiliki arah serta pesan yang jelas.

Di balik komedi tersebut, muncul persoalan yang lebih mendalam. Mereka mempertanyakan bagaimana sejarah seharusnya disampaikan: apakah melalui kemarahan dan dendam, ketakutan yang berlebihan, atau pendekatan yang jernih dan bertanggung jawab?

Tiga lembar kertas berwarna merah, hitam, dan putih kemudian menjadi simbol dari cara berbeda dalam memandang masa lalu. Kertas merah menggambarkan amarah dan dendam, kertas hitam merepresentasikan ketakutan serta kebingungan, sedangkan kertas putih menjadi simbol kejujuran, kejernihan berpikir, dan upaya memahami sejarah secara kritis.

Melalui percakapan yang ringan, para tokoh menyampaikan pesan bahwa sejarah tidak seharusnya digunakan untuk menumbuhkan kebencian baru. Sebaliknya, sejarah perlu dipelajari agar generasi muda memahami dampak konflik, menghargai kemanusiaan, dan menyadari pentingnya menjaga persatuan bangsa.

Penutup cerita kembali menghadirkan humor khas anak teater. Setelah perdebatan panjang mengenai sejarah dan konsep pementasan, persoalan yang paling mendesak ternyata adalah rasa lapar para pemain. Adegan tersebut memberikan sentuhan komedi yang membuat cerita terasa dekat dengan keseharian pelajar tanpa menghilangkan pesan utama yang ingin disampaikan.

Melalui perpaduan komedi dan refleksi, Teater Barata mencoba membuktikan bahwa pembelajaran sejarah dapat dikemas secara kreatif, komunikatif, dan relevan bagi generasi muda.

Puncak Roadshow di Gedung Krida SMAMALA

Rangkaian perjalanan tersebut mencapai puncaknya pada Rabu, 30 September 2026, di Gedung Krida SMA Maarif Lawang (SMAMALA). Pada kesempatan ini, pertunjukan teater menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran dan refleksi sejarah G30S 1965 di lingkungan sekolah.

Kegiatan turut menghadirkan Ibu Hj. Siti Sulasminah, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) SMA Maarif Lawang, yang memberikan materi mengenai peristiwa G30S 1965, konteks sejarah, serta nilai-nilai kebangsaan yang dapat dipetik oleh generasi muda.

Penyampaian materi sejarah kemudian diperkaya melalui penampilan Teater Barata. Perpaduan antara pembelajaran dan pertunjukan seni ini memberikan pendekatan yang berbeda bagi siswa untuk memahami masa lalu, tidak hanya melalui informasi, tetapi juga melalui dialog, penghayatan karakter, dan perenungan terhadap pesan yang disampaikan.

Momentum tersebut menjadi penting karena pelajar tidak cukup hanya mengenal tanggal dan nama peristiwa. Mereka juga perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami konteks, membandingkan informasi, memeriksa sumber, dan menyikapi perbedaan pandangan secara bijaksana.

Melalui panggung teater, persoalan sejarah yang kompleks berusaha didekatkan dengan pengalaman generasi muda. Humor menjadi pintu masuk untuk menarik perhatian, sementara pesan mengenai persatuan, kemanusiaan, dan tanggung jawab dalam memahami sejarah menjadi inti dari pertunjukan.

Seni, Sejarah, dan Karakter Generasi Masa Depan

Roadshow Teater Barata menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung melalui metode konvensional. Seni dapat menjadi ruang belajar yang hidup, tempat para siswa berlatih menyampaikan gagasan, bekerja dalam tim, mengelola emosi, serta memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.

Pengalaman tampil di luar sekolah juga memberikan nilai tersendiri. Para anggota teater berkesempatan membangun keberanian, beradaptasi dengan lingkungan pertunjukan yang berbeda, dan menguji kemampuan mereka dalam berkomunikasi dengan penonton.

Bagi SMA Maarif Lawang, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi siswa melalui kreativitas, literasi sejarah, dan pendidikan karakter. Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang bagi tumbuhnya generasi muda yang berani berkarya dan bertanggung jawab atas gagasan yang disampaikan.

Pada akhirnya, pesan yang dibawa Teater Barata melampaui panggung dan tepuk tangan penonton. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi cara generasi hari ini memahami dan mengambil pelajaran darinya akan memengaruhi masa depan.

Melalui “Naskah yang Belum Jadi”, Teater Barata mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan sejarah sebagai alasan bagi kebencian yang diwariskan. Sebaliknya, sejarah perlu menjadi bahan pembelajaran agar kesalahan masa lalu tidak terulang dan persatuan tetap terjaga.

Dari Kedai Kopi Senggani, berlanjut ke Cafe Sangkara, hingga mencapai puncak pertunjukan di Gedung Krida SMAMALA, Teater Barata membawa satu pesan sederhana: panggung boleh berakhir, tetapi pembelajaran dari sejarah harus terus berjalan.

TIM JURNALIS

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar