Info Sekolah
Kamis, 22 Okt 2026
  • Selamat Datang Website Resmi SMA Maarif Lawang - Sekolah Double Track - SIAP KERJA SIAP KULIAH
  • Selamat Datang Website Resmi SMA Maarif Lawang - Sekolah Double Track - SIAP KERJA SIAP KULIAH
1 Oktober 2026

DARI INGATAN SEJARAH MENUJU KESADARAN MASA DEPAN

Kam, 1 Oktober 2026 Dibaca 87x Berita / Kegiatan

SMA Maarif Lawang Hadirkan G30S 1965 melalui PKN dan Pertunjukan Teater

Lawang, 30 September 2026 — Sejarah tidak selalu datang sebagai cerita yang selesai. Ada peristiwa yang terus meninggalkan pertanyaan, ingatan, bahkan perenungan lintas generasi. Salah satunya adalah rangkaian peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Di Gedung Krida SMAMALA, Rabu (30/9/2026), siswa-siswi SMA Maarif Lawang diajak kembali membuka halaman sejarah tersebut. Bukan sekadar untuk menghafal tanggal dan nama tokoh, tetapi untuk membaca masa lalu dengan kesadaran yang lebih kritis—kemudian membawa pelajarannya ke masa kini.

Kegiatan menghadirkan Ibu Hj. Siti Sulasminah, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) SMA Maarif Lawang, sebagai pemantik materi mengenai G30S 1965, perjalanan politik Indonesia pada masa itu, serta nilai-nilai kebangsaan yang dapat dipetik oleh generasi muda.

Dalam pemaparannya, sejarah ditempatkan bukan hanya sebagai kumpulan peristiwa masa lalu. Sejarah menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana ketegangan politik, perbedaan kepentingan, konflik antarkelompok, serta penyebaran informasi dapat membentuk sebuah peristiwa besar dalam perjalanan bangsa.

Peristiwa 30 September 1965 sendiri berkaitan dengan penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian konflik politik dan kekerasan yang memiliki dampak sangat luas terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam kajian sejarah, terdapat pula perbedaan perspektif mengenai pihak-pihak yang terlibat dan bagaimana peristiwa tersebut harus dipahami.

Karena itu, ruang kelas dan forum pendidikan memiliki peran penting untuk menghadirkan sejarah secara kritis. Siswa tidak hanya diajak mengetahui “apa yang terjadi”, tetapi juga belajar bertanya: Mengapa peristiwa itu bisa terjadi? Bagaimana masyarakat menerima informasi pada masa tersebut? Apa dampaknya bagi kehidupan bangsa? Dan apa yang dapat dipelajari generasi hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat sejarah tetap hidup.

Ketika Sejarah Bertemu Panggung Teater

Suasana pembelajaran kemudian bergerak dari materi menuju ekspresi seni.

Teater Barata SMA Maarif Lawang turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut melalui sebuah pertunjukan yang membawa penonton memasuki ruang perenungan. Bagi para siswa, panggung bukan sekadar tempat memainkan karakter. Panggung menjadi medium untuk menerjemahkan sejarah, kegelisahan, kemanusiaan, dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak selalu mudah disampaikan melalui buku teks.

Penampilan tersebut juga bukan kali pertama Teater Barata membawa karyanya ke ruang publik.

Sebelumnya, pada 26 dan 28 September 2026, Teater Barata telah tampil dalam rangkaian kegiatan di Kedai Kopi Senggani serta Padange Ati, sebuah ruang kegiatan Maiyah di Lawang yang mempertemukan masyarakat melalui diskusi, kebudayaan, seni, dan refleksi.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Teater Barata untuk terus mengembangkan seni pertunjukan sebagai ruang komunikasi generasi muda.

Jika di Kedai Kopi Senggani dan Padange Ati panggung menjadi ruang perjumpaan dengan masyarakat, maka di Gedung Krida SMAMALA panggung kembali menemukan fungsi lainnya: menjadi jembatan antara sejarah dan kesadaran generasi hari ini.

Bukan Sekadar Mengingat, tetapi Belajar Memahami

Menariknya, kegiatan ini berlangsung hanya sehari sebelum Hari Kesaktian Pancasila, yang diperingati setiap 1 Oktober.

Momentum tersebut memberikan konteks tersendiri. Pemerintah melalui pedoman peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 menetapkan pelaksanaan upacara pada 1 Oktober 2026, termasuk penyelenggaraan di Monumen Pancasila Sakti.

Namun bagi keluarga besar SMA Maarif Lawang, mengenang sejarah tidak berhenti pada seremoni.

Ada pesan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan pelajar hari ini: bagaimana Pancasila diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, informasi dapat berpindah hanya dalam hitungan detik. Narasi dapat menyebar sebelum sempat diperiksa. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi pertentangan ketika tidak disertai kemampuan mendengar dan memahami.

Di titik inilah pembelajaran sejarah menjadi semakin relevan.

Generasi muda membutuhkan kemampuan untuk membaca informasi, memeriksa sumber, memahami konteks, menghargai perbedaan, serta tidak mudah terseret oleh narasi yang belum teruji.

Sejarah 1965 dengan segala kompleksitasnya menjadi salah satu ruang belajar untuk membangun kemampuan tersebut.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar